Contoh Cerpen sederhana

RINTIK HUJAN BULAN JULI

  Kunduran 6 Juni 2020

Secarik kertas yang kutulis dengan tinta hitam yang sedikit berkisah tentang pengalaman pribadiku, tentang rasa yang telah tersampaikan dan terungkapkan kepada seseorang yang selama ini aku perjuangkan, tentang bagaimana rasa dan perasaan yang harus dikorbankan untuk mengucapkan sepatah kalimat

  “Aku suka kamu”

Yang begitu berat diucapkan, tetapi bila tidak tersampaiakan akan lebih berat lagi penyesalan yang harus ditanggung karena terkalahkan oleh rasa takut dan malu pada saat itu.

            Ini ceritaku tentang aku, dia dan hati. Perkenalanku denganya yang belum genap dua bulan aku akrab dengan dia, tetapi hati berkata lain, waktu tidak menjadi acuan seseorang untuk bisa berbagi kasih dan sayang walaupun terjadi secara singkat. Orang tersebutlah yang juga bisa merubah pola pikirku tentang dunia remaja tentang cinta,masa depan,karir dan lain hal. Aku berfikir bahwa masa remaja bukan masa-masa mengenal dunia cinta dan sejenisnya, masa remaja adalah masa pembentukan jatidiri dan menentukan masa depan. Namun dari pola berfikir tersebut ada satu hal yang aku lupakan, masa remaja juga merupakan masa pubertas, dimana hati sudah mengenal rasa suka terhadap lawan jenis dan tidak melulu harus mengejar cita-cita terus-menerus secara ambisius. Suatu malam saat  aku selesai chat denganya tepatnya pada hari minggu sekitar jam sebelas malam, teringat tentang kutipan kata yang pernah aku baca dari buku yang ditulis oleh Tereliye

  “Cinta adalah perbuatan, kata-kata dan tulisan indah adalah omong kosong”

            Aku ingat kutipan tersebut karena rasa yang aku alami saat itu tidak bisa berbohong lagi, bahwa aku memang benar suka denganya. Kutipan tersebut membuatku sadar bahwa selama ini apa yang aku lakukan berarti berdasarkan cinta, tentang hobiku yang aku sering lakukan, tentang semua hal aku jalani setiap hari berarti terjadi karena cinta. Lalu dalam hatiku juga bertanya, apakah kalau aku berkomunikasi intens dengan seseorang apakah berarti aku ada rasa cinta dengannya, mungkin iya, tapi mungkin bisa jadi hanya kebetulan, karena komunikasi melalui media sosial seperti Whatsapp, Facebook, Instagram dll merupakan hal yang umum terjadi. Tetapi satu bulan berlalu dalam komunikasiku denganya semakin dekat dan intens, untuk kedua kalinya  hatiku berspekulasi

  “Mungkin aku sedang jatuh cinta lagi dengan seseorang, tidak mungkin aku berbohong terhadap diriku sendiri, tentang kedekatanku denganya melalui chatting via Whatsaap yang membuatku menjadi Baper (Bawa perasaan) istilah kata anak zaman sekarang.”

            Apalagi orang tersebut juga sering memposting Story Whatsapp dan Instagram yang sering membuatku menjadi baper dan seolah-olah memberikan sebuah isyarat kepadaku, tapi mungkin itu hanya anggapanku saja yang terlalu over confident. Beberapa hari berselang aku mencoba memberanikan diri untuk menyampaikan kepadanya tentang perasaanku sebelum aku terlambat mengutarakan maksutku karena dia pulang ke pondok pesantrennya. 

            Iya memang . . . Gadis tersebut adalah anak pondok pesantren berbeda jauh dengan kepribadian yang begitu kurang paham tentang ajaran agamaku sendiri dan juga masa laluku yang suram dan bisa dibilang sebagai anak yang nakal. Entah apa yang mendasariku untuk berani mendekati gadis seperti dia yang sangat berbanding jauh dengan hidupku, yang selalu membuatku berfikir

  “Apakah aku pantas untuknya?”

            Kalimat tersebut selalu teringat setiap saat, apalagi saat aku berencana mengutarakan perasaanku kepadanya. Terbesit juga dalam pikirku untuk mundur, tidak lagi untuk komunikasi secara intens denganya atau jaga jarak istilahnya, pikiran-pikiran tersebut wajar bila muncul pada benaku, mungkin karena rasa insecure atau memang karena aku tidak pantas untuknya. Tapi entah apa yang mendasari hatiku, mungkin rasa berani, nekat dll. Pada Selasa 14 Juli 2020 disertai dengan rasa emosi juga, karena ada perihal tentang temanku yang kurang mengenakan, aku menyampaikan perasaanku kepadanya, dengan beberapa kalimat berbahasa jawa, seperti ini kutipan kalimat tersebut

  “Aku ngakui nek aku ancen chat karo koe aku baper juga:v, tapi aku mikir gak mungkin nek saat iki terus maju, cukup awakmu tau wae nek aku pernah suka karo awakmu, perjalanan kedepan masih panjang”

            Itulah kalimat yang aku ucapkan melalui pesan Whatsapp untuknya. Setelah aku mengirimkan pesan seperti itu perasaanku menjadi lega, aku tidak pernah berpikir harus pacaran, TTM dan entah sebagainya yang tidak aku tahu tentang istilah bucin seperti itu. Cukup aku menyampaikan perasaanku saja, urusan perasaanya itu menjadi hak dia sebagai pemilik hati dan rasa yang bebas ia berikan untuk siapa saja tanpa harus memerintah ataupun diperintah.

            Singkat cerita, perasaanku yang aku sampaikan akhirnya mendapatkan balasan. Di bawah rintik air hujan bulan Juli, dipenghujung musim penghujan dan memasuki musim kemarau. Walaupun cara penyampaianya begitu membuat penasaran dan cukup berbeda dari yang lainya. Di sampaikan melalu pesan Whatsapp juga

 Dia berkata kepadaku “Heh mas tak omongi gelem gak?”

 Dengan nada penasaran aku menjawab “Kandani opo ah?”

 Lalu dia minta tolong kepadaku “Ohh yo mas.. Boleh minta tolonglah”

 Aku yang semakin penasaran menjawab “Bolehlah, minta tolong opo sih?”

 Dia menjawab “Golekke iki ning google, paketanku tinggal chat, soko ustadku tambahan           tugas aku ndak ngerti”

 Langsung aku browsing tentang “SQRT(cos(x))*cos(200x)+SQRT(abs(x))-0.7)*(4-x*x)0.01   SQRT(9-x2)”

 

                          Saat aku browsing di google aku paham apa yang dia maksutkan, rumus tersebut membentuk grafik tabel berbentuk love. Aku jadi paham apa yang dia maksudkan kepadaku tapi aku tidak berani menyampaikan kepadanya, takut dibilang kepedaan. Namun malam hari setelah peristiwa itu aku menyampaikan kepadanya, Bila jalan ta’aruf lebih baik untuk kedepanya.

                          Bila memang jodohnya pasti akan bertemu dengan fase Ta’aruf tersebut, apapun yang terjadi bila memang sudah ditakdirkan pasti akan berjumpa dengan masa Ta’aruf tersebut. Lagi pula perjalanan masih panjang, masih banyak hal yan harus diwujudkan, membahagiakan orang tua dan juga meraih apa yang dicita-citakan selama ini, jadi masih belum sepantasnya aku harus berpikir kedepan untuk masalah perasaanku kepadanya. Mengalir dan nikmati saja apa yang terjadi, itu akan memberikan pelajaran yang berharga kedepan. Bila memang suka dan cinta rasa yang selama ini tumbuh pasti tidak akan layu begitu saja.

                          Apalagi dia akan pulang ke Pondok pesantren, terbatas komunikasi antara aku dengannya, itu merupakan hal yang sangat berat bagiku, baru terpikirkan saja sudah berat apalagi menjalani. Tapi tidak apalah, itu memang kewajibanya untuk menuntut ilmu dan mencari pengalaman, harus ikhlas melepas komunikasi dalam waktu yang tidak ditentukan, biarpun begitu apapun yang terjadi nanti, Rasa yang telah aku perjuangkan tidak akan hilang begitu saja, apalagi aku mendapat balasan kembali tentang perasaanku, walaupun hal tersebut bukan jaminan bahwa aku memilikinya sepenuhnya.

                          Tetapi satu prinsip yang kupegang sampai kini,

   “Apapun yang terjadi aku akan berusaha untuk tidak mengecewakan orang lain, Insyaallah. Meskipun orang tersebut mengecewakan saya.”

          Artinya apapun yang terjadi denganya disana, perasaan suka dan cinta itu masih ada dan akan aku pertahankan, urusan dia disana ingin suka dengan yang lain itu adalah hak kebebasanya lagi pula aku dan dia juga tidak ada tali pengikat yang sah dalam sebuah hubungan. Tetapi apapun yang terjadi nanti aku akan tetap menunggu dia pulang dengan apapun berita yang dibawanya dari pencarian ilmu di pondoknya tersebut.

            Dan satu pesan untuknya melalui surat ini dariku

 “Kita dipertemukan oleh ketidak sengajaan yang menimbulkan tumbuhnya perasaan suka antara kita, apapun yang terjadi nanti aku minta tetap untuk jaga tali silaturahmi, bila mungkin engkau jodohku Wallahua’lam, aku tidak sia-sia memperjuangkanmu, tetapi bila memang engkau tidak jodohku dan akhirnya ada perpisahan yang harus terjadi, semoga peristiwa yang kita alami selama ini memberi banyak pengalaman dan pembelajaran yang berharga bagi diriku dan juga bagi dirimu.

 Kunduran 17 Juli 2020

 

Adib Helmi Pratama

Komentar

Posting Komentar